SATU
Buku yang dikarang oleh Sori Siregar ini menceritakan bagaimana sang suami yang tetap setia dan cinta kepada istrinya walaupun telah ditinggalkan selama berpuluh – puluh tahun. Pada situasi ini Hezan selalu bingung dengan apa yang akan dikerjakannya. Ia merenung dengan penuh serius sekali. Di dalam renungannya ini, ia selalu memikirkan sesosok wanita yang tidak lain adalah istrinya. Suatu saat didalam pikirannya itu ia pernah membayangkan ada wanita yang dapat menggantikan istrinya, tetapi ia selalu tidak memperdulikan keinginan tersebut.
Suatu malam anak perempuannya yang bernama Prapti, memohon kepada ayahnya. Tujuannya agar Prapti dapat hidup sendiri dalam suatu rumah tangga yang akan dibentuknya bersama Tonton. Hezan hanya terdiam dan dalam pikirannya terus merasa berat. Ia berat sampai – sampai menyimpulkan sendiri bahwa dirinya sangat tidak berarti. Ia terus bergulat denga pikirannya. Akhirnya memikirkan untuk melakukan apa saja demi anaknya. Setelah beberapa lama terbayang dalam tawaran anaknya itu, ia akhirnya menyetujui apa yang diminta anaknya itu.
DUA
Akhirnya Prapti menikah dengan Tonton. Mereka pindah ke rumah yang telah mereka beli. Hezan, ayah Prapti, ditinggalkan hanya bersama pembantunya. Terntata ia cukup merasa sudah sedikit terhilang dalam kehampaannya selama ditinggal istrinya itu. Disamping itu kegiatan – kegiatan yang tanpa bantuan orang lain pun ia kerjakan. Contohnya antara lain yang ia lakukan selama ditinggalkan anaknya hanya membaca Koran, mendengarkan radio, dan menonton tv. Terkadang selain ia melakuan aktivitas tersebut ia pergi ke rumah anak dan suaminya untuk melepaskan rasa kesepiannya setiap seminggu sekali. Mendengar hal itu pada mertuanya, Tonton pun merasa kasihan.
Akhirnya ia memberikan banyak masukan kepada istrinya tentang keadaan ayahnya itu atau mertuanya itu. Salah satunya adalah agar Prapti dapat membujuk ayahnya supaya ia tinggal saja bersama mereka atau memiliki menggantikan sosok istrinya dengan wanita yang lain. Dalam perbincangan mereka, Prapti sangat ragu atasa jawaban yang benar karena ayahnya itu sangat tidak bisa dipengaruhi tentang pengganti istrinya yang sudah meninggal itu. Tonton memberikan dukungan kepada Prapti agar dicoba saja kalau urusan ia atau tidak urusan belakangan. Setelah melalui perbincangan yang sangat panjang akhirnya Tonton berhasil meyakinkan Prapti dan Prapti pun memberanikan dirinya untuk bertanya kepada ayahnya.
TIGA
Prapti pun pergi ke rumah ayahnya. Setelah sampai di rumah ayahnya, Prapti melihat ayahnya yang sedang mendengarkan lagu – lagu yang dibelinya sendiri. Melihat anaknya, Hezan merasa bingung dan bertanya tentang Tonton kenapa tidak menemaninya. Tapi kata Prapti suaminya itu sedang ada acara bersama teman – teman lamanya, jadi ia tidak bisa menemaninya. Kali ini bergantian yang bertanya. Prapti menanyakan bagaiman keadaan Bik Mis. Kata Hezan, Bik Mis masih seperti biasanya. Tidak hanya itu Prapti juga menanyakan keherannannya pada lagu – lagu yang sebelumnya belum didengar oleh Prapti. Hezan memberi tahu kepada Prapti bahwa semua lagu – lagu yang tadi sedang ia dengarkan itu baru ia beli kemarin. Pantaslah Prapti merasa heran karena ayahnya itu jarang sekali mendengar lagu – lagu pop. Sambil mengunyah kerupuk Palembang yang disukainya itu ia bertanya kepada ayahnya, “Papa betah diatur waktu begini ?” Tetapi Hezan hanya menjawab dengan santai, “Papa yang mengatur waktu dan bukan sebaliknya.” Itu artinya secara tidak langsung ia memberitahukan kepada anaknya kalau ia tidak merasa hidup kesepian. Kembali kepada tujuan awalnya ke rumah ayahnya itu. Prapti menceritakan hal yang sudah didiskusikan dengan suaminya beberapa hari yang lalu. Setelah mendengar perkataan itu Hezan hanya tertawa. Tetapi ia memikirkan dengan sangat berat dan besikukuh dengan ketidaksetujuannya akan memiliki istri baru. Tidak beberapa lama ia terhenti tertawa.
Ia bertanya dan yakin kepada Prapti bahwa ide dari semuanya itu pasti ide dari Tonton. “Ini keinginan Prapti, bukan keinginan orang lain,” kata Prapti dengan singkat sekaligus mempertegasnya. Hezan kembali terdiam mendengarnya. Kemudian Hezan meneguk lagi teh manisnya. Hezan berbicara kepada anaknya dengan sangat heran karena setelah lima belas tahun Hezan tidak pernah mendengar dan memikirkan perkataan itu. Prapti pun menegaskan bahwa ia hanya tidak ingin ayahnya terus dihantui oleh gambaran – gambaran ibu tiri yang kejam. Hezan terus mendengarkan semua yang dikatakan oleh anaknya itu dengan tenang. Ia berfikir bahwa begitu dewasa permikiran anaknya sekarang ini. Hezan berdiri keluar rumah sebentar untuk melihat suasana di luar sejenak. Setelah tidak beberapa lama Hezan masuk lalu memeluk Prapti. “Berikan kesempatan kepada papa untuk berfikir,” begitu yang hanya keluar dari mulut Hezan dengan polosnya.
EMPAT
Malam hari. Hezan telat untuk tidur. Hezan terus memikirkan pembicaraan bersama anaknya beberapa hari yang lalu. Hezan pun ingin meluapkan semua perasaan yang ia simpan berhubungan dengan pintaan anaknya terhadap pengganti pasangan hidupnya. Ia berfikir cara meluapkan semuanya itu lebih baik dengan menuliskannya di kertas yang dibuat menyerupai surat. Surat ini dibuat hanya untuk direfleksikan dengan dirinya sendiri. Inti dari tulisan yang dibuatnya ini adalah ia menceritakan kepada istrinya yang bernama Laura, tentang saran yang diberikan anaknya, tentang perempuan yang pernah disinggahi dan didekati selama ditinggalkan istrinya akhir – akhir ini, dan tentang cintanya yang hanya untuk istrinya dan anaknya. Kalimat demi kalimat dibentuk sampai – sampai hasil yang ia peroleh sampai lima lembar atau lebih.
Setelah menulis itu ia tidak langung tidur, melainkan membacanya. Pada saat membacanya kembali ia malah merasa heran dengan mengapa ia pernah berbuat seperti itu? Tetapi ia harus tetap pada pendiriannya. Setelah selesai membaca surat itu baru ia langsung tidur.
LIMA
Pekerjaan yang sedang ditekuni oleh Tonton sebagai translation Division ini, sedang sibuk – sibuknya mengetik tugas yang ia harus kerjakan. Bahrum, teman Tonton yang sudah terlebih dahulu mengetik itu menjadi temannya dalam mengerjakan tugasnya. Di sela – sela pekerjaan mereka, mereka membicarakan temannya yang selalu “ laku “ dengan cewek dan tentang promosi teman bibi Buharm yang berusaha mendapatkan pasangan hidup sampai membuat iklan di Koran. Tidak hanya itu, bahkan pembicaraan mereka sampai kepersoalan mertua Tonton yang juga dikaitkan dengan cara teman bibi Buhram yang mencari pasangan hidupdi Koran. Sedang asik – asiknya mengetik, tilpon bordering. Dengan cepat ia meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk berbicara di tilpon. Isi pembicaraan di tilpon itu adalah sang mertua ingin menonton dan makan di luar bersama Tonton dengan istrinya.
Dilain waktu Prapti sudah selesai membaca surat yang diterimanya beberapa waktu yang lalu. Isi suratnya itu memberitahukan bahwa nenek, paman, bibi dan keluarga terdekat baru saja mengadakan kenduri kecil. Yang mereka lakukan adalah berdoa yang dibacakan untuk keabadian nyawa ibunya yang sudah meninggal. Memang itu selalu dilakukan oleh mereka setiap tahunnya. Semua isi surat sudah ia baca tanpa terlewatkan satu kata pun. Tiba – tiba ia menginginkan seseorang di dekatnya untuk menemaninya.
Berfikir lebih lama lagi ia merasakan bahwa semua yang ada di dalam surat itu mengatakan, apa yang dilakukan oleh Prapti sekarang dengan menganjurkan ayahnya mencaripengganti seorang ibu, adalah salah. Tetapi dari dalam hatinya ia juga berkata tidak. Ini semua adalah perasaan buruk setelah menerima surat itu. Pikirnya Prapti juga mengatakan, merka hanya mengatakan ibu masih tetap berada dalam hati mereka. Mereka justru hanya ingin menghibur Prapti yang paling merasa kehilangan dengan ditinggalkan ibunya selama bertahun – tahun itu. Setelah beberapa saat, Prapti menggenggam surat itu dan hanya berdoa. “Tuhanku, Kaulah yang mengetahui segalanya. Kaulah yang mengetahui segalanya. PadaMulah aku mengadu,” begitulah yang diungkapkan oleh Prapti dengan doa.
ENAM
Hezan ternyata hanya ingin mengajak Tonton dan Prapti untuk makan malam di sebuah restoran dan acara untuk nonton bersama pun dibatalkan. Mereka hanya berbicara biasa – biasa saja seperti kesibukan Tonton di kantor, bagaimana keadaan Prapti atau kegiatan apa yang dilakukannya saat ditinggal suaminya ke kantor, dan hal – hal lain semacamnya. Setelah itu mereka pulang ke rumah mereka.
Sepulangnya dari acara itu Prapti dan Tonton sampai di rumah. Setelah bertemu di restoran Tonton berfikir dan berbicara kepada Prapti. “Kelihatan lebih gembira sekarang dan aku senang kalau Bapak bisa terus – menerus begitu,” katanya kepada Prapti. Prapti hanya berkata, ”Papa sebenarnya ingin memperlihatkan kepada kita bahwa ia ridak kesepian.” Tonton pun juga merasa sama seperti kata – kata istrinya itu yang berfikir bahwa mertuanya tidak lagi merasakan kesepian dan tidak lagi memerlukan wanita untuk mencari pasangan hidup sebagai pengganti istrinya yang sudah meninggal. Prapti yakin dengan itu persoalan – persoalan yang dihadapi ayahnya itu bisa diselesaikannya sendiri. Jika ada wanita yang berperan sebagai pengganti istrinya Prapti yakin akan membuat ayahnya menjadi tidak bebas. Selain itu banyak waktu juga yang harus dilakukan oleh ayahnya yang bisa menyita waktu ayahnya sehari – hari. Salah satu contonhnya yaitu dari faktor pekerjaan. Pekerjaan yang selama ini ia lakukan dengan baik akan ia kerjakan dengan setengah – setengah. Apalagi ia harus mengurusi semua keperluan yang harus tersedia di dalam keluarganya nanti itu.
TUJUH
Pada suatu sore yang bercuaca hujan, Hezan sedang membaca buku yang disukainnya. Tidak heran lagi bagi Hezan dengan sering membaca. Membaca dijadikannya sebagai hobi. Setelah selesai membaca buku, pria yang berumur 45 tahun ini pergi ke toko buku. Rencananya ia ingin membeli buku yang menarik lainnya. Sesampainya di toko buku, ia tidak berbasa – basi dan langsung memilih buku yang akan ia pilih dan dibaca. Ia terus mencari sampai satu rak buku di toko itu dan hampir semuanya tidak ia lewati. Ternyata masih ada satu rak buku lagi yang belum ia lihat. Hezan pun langsung menghampiri rak itu dan langsung melihat – lihat dan memilihnya. Cara menjongkok pun ia lakukan hanya untuk melihat buku.
Saat Hezan menjongkok untuk melihat buku – buku yang terletak di bawah, bagian belakang badannya tertubruk seorang wanita dengan tidak sengaja. Wanita yang masih terlihat muda itu sedang memilih – millih buku sama seperti yang dilakukan Hezan. Setelah Hezan menyadari bahwa salah satu anggota tubuhnya tertubruk oleh orang ia pun melihat ke belakang untuk mencoba untuk meminta maaf. Tetapi yang dilakukan oleh wanita itu tidak memberikan tanggapan sedikit pun dan hanya memberikan raut wajah yang tidak menyenangkan lalu meninggalkann Hezan.
Setelah apa yang sudah ia inginkan terpenuhi ia langsung membayar lalu keluar toko hendak menghadiri pertemuan yang sudah ia iakan untuk dapat datang. Semua buku yang ia beli itu semuanya berbahasa Inggris. Ternyata hujan sudah terlebih dahulu turun. Terpaksa ia harus menunggu. Dalam penungguannya ia terus melihat seorang wanita setengah baya yang kena tubruknya itu pada saat sedang memilih – milih buku tadi. “Boleh juga dia,” pikir Hezan dalam hati. Pandangan mata antara Hezan dan wanita itu pun terjadi. Ia berfikir tanpaknya ia suka dengan wanita itu. Tetapi semuanya itu terhenti karena ia teringat akan janjnya kepada seseorang yang diterima dari telponnya beberapa hari yang lalu itu.
Akhirnya ia sampai ke tempat janjian mereka. Setelah ketemu keduanya masih terlihat baru sekali bertemu. Tetapi lelaki itu mengingatkan pikiran Hezan bahwa lelaki itu adalah teman SMAnya dulu. Hezan pun ingat dan nama lelaki itu juga diingatnya. Nama temannya itu adalah Subroto. Setelah semuanya ingat Subroto mengajak Hezan untuk jalan – jalan dan sekalian ngobrol – ngobrol. Mereka membahas tentang kenakalan yang pernah mereka lakukan berdua. Saat – saat pacaran Hezan dengan pacanya dan masih banyak lagi.
DELAPAN
Nuning, si wanita yang masih dibilang muda dan yang juga menabrak Hezan sewaktu di toko buku beberapa hari yang lalu. Ia bekerja sebagai guru bahasa Inggris disebuah SMA dan salah satu dosen pula di Akademi Bahasa Asing. Ia suka dengan membaca. Ia sama seperti Hezan yang memilih untuk tidak menikah karena ia tidak mau direpotkan dengan urusan suami dan istri. Mendingan seperti sekarang, pikirnya. Dengan gelar doktoranda yang dari sebuah IKIP negeri ini pulalah Nuning tidak merasa perlu menggantungkan dirinya kepada suami karena dengan mudah ia telah memperoleh pekerjaan sebagai guru dan dosen bahasa Inggris.
Menurut pendapat teman – temannya yang paling menarik dari Nuning adalah dalam pribadinya. Ia ramah, suka bergaul dengan siapa saja, suka menolong kalau dapat dan tidak kikir. Ia tinggal di Pavilyun seorang diri. Beberapa hari belakangan ini ia selalu dibayang – bayangi dengan wajah lelaki yang ia tabrak di toko buku belum lama ini, yang tidak lain yaitu Hezan. Ia rebah di tempat tidurnya lalu menatap ke langit. Sesekali dalam pikirannya itu ia sudah mengalami rangsangan yang melebihi batas. Sudah berbagai cara ia coba supaya bayangan itu hilang dari pikirannya. Sampai ia juga tidak dapat menahannya dan meluapkan semua perasaannya itu dengan bantuan salah satu jari tangan yang terbilang lentik itu. Ia juga merasa menyesal pada saat tubrukan badan terjadai. Dia memasang wajah yang cemberut, ketika Hezan meminta maaf. Nuning kembali memejamkan mata sejenak untuk beristirahat. Ia teringat akan kata – kata yang diucapkan oleh Indri. “Betapapun jahatnya laki – laki kita masih tetap membutuhkan kehadiran mereka.” Ia merasaka yang dikatakan Indri itu benar.
Kembali ia memejamkan mata. Dan tiba – tiba pula muncullah suatu pikiran dimasa depan tentang dirinya. Dimana ia pernah membayangkan bahwa pada suatu hari nanti tubuhnya akan menjadi keriput. Selain itu ia juga mendapat julukan sebagai perawan bawel yang sedang menunggu ajal. Ia membuka matanya dan seketika pula ia kembali berfikir kejadian tabrakan dengan laki – laki itu. Dengan bayangan yang mengerikan itu ia merasa lelaki itu yang menyelamatkannya dari keadaan buruk itu. Ia juga membayangkan kejadian tabrakan diulang. Saat lelaki itu meminta maaf dan ia membalas kata maaf itu dengan ramah dan memaafkannya. Sampai suatu saat ia berdiri di cermin sambil berputar dengan menanggalkan semua pakaian yang ada di seluruh tubuhnya itu. Dan ia merasa belum terlambat untuk mencari pasangan hidup yang baru.
SEMBILAN
Hezan yang baru saja sampai di rumah, tukang kebunnya langsung menghampiri Hezan dan memberitahukan ada orang yang ingin bertemu. Pertama kali ia melihat lelaki itu di ruang tamu kesan pertamanya hanyalah curiga. Ia berfikir ini hanya sandiwara saja seperti yang pernah ia lihat di televise tentang penipuan. Sukar untuk mempercayai orang di kota J ini, pikir Hezan. Karena itu ia bertanya tentang berbagai hal tentang dirinya.
Ramlan namanya. “Mengapa meminta tolong kepada saya bukan kepada tetangga saya saja.” Semua terdiam. Hezan berfikir kalau Ramlan tidak menjawab apa yang ditanyakannya terus itu maka ia akan memanggil polisi. Ramalan hanya menjawab kalau Hezan itu suka menolong. Redalah emosi Hezan yang sudah hampir terekspresikan itu. Ia meminta tolong karena keterbatasan ekonomi. Ia tidak punya uang untuk membuat anaknya yang sakit panas yang sudah lama itu menjadi sembuh. Hanyalah kompresan yang bisa Ramlan beri kepada anaknya.
Dengan berfikir panjang akhirnya Hezan ingin menoloknya tetapi harus dengan syarat. Hezan ingin melihat keadaan anaknya dahulu baru bersama – sama pergi ke rumah saki untuk menolongnya. Rumah Ramlan tidak jauh dari tempat tinggal Hezan. Gubuk. Seperti itulah bayangan pertama Hezan setelah melihat tempat yang dibilang rumah oleh hezan. Hezan dikenalkan dengan istri Ramlan. Hezan tidak memperhatikan perkataan Ramlan. Wanita yang dipanggil Hes itu yang membuatnya terpanah. Seketika Hezan ingat dengan tujuannya datang ke rumah Ramlan. Hezan pun langsung meminta Ramlan agar ia bisa melihat anak Ramlan itu. Setelah melihat kondisi anaknya itu langsunglah seketika Hezan meminta agar anak itu bisa dibawa ke rumah sakit sekarang. Akhirnya mereka semua setuju dan dibawalah anaknya itu ke rumah sakit untuk langsung di rawat. Untungnya dirumah sakit mereka bertemu dengan teman Hezan yang sebagai dokter. Tanpa mengantri lagi Dr. Hartono ini langsung memberikannya pertolongan.
Dalam perjalanan pulang anak itu kelihatan agak tenang. Mungkin karena cepat ditangani. Hezan menganjurkan kepada Ramlan agar tidak lupa memberi anaknya obat dengan rutin. Setelah sampai di rumah Ramlan Hezan memberikan uang. Selain itu ia juga membolehkan Ramlan kalau ingin perlu sesuatu. Ramlan pun senang mendengar hal itu. Karena jarang ada orang yang sebaik Hezan.
Setelah sampai di rumah ia rebah di kursi sejenak. Ia memikirkan wanita tadi, Hesti, istri dari Ramlan. Tidak lama ia tertidur.
SEPULUH
Hezan dan Sundari terbaring lesu di atas sebuah ranjang yang cukup besar. Mereka baru saja selesai menikmati kenikmatan duniawi. Mereka berbicara sedikit sebelum mereka mengenakan busana mereka. Disitu Hezan menceritakan kepada Sundari tentang kakaknya yang tidak sebahagia dirinya. Kakaknya itu adalah Hesti, istri dari Ramlan. Sebagai satu keluarga ia berfikir harusnnya Hesti juga harus merasakan apa yang dirasakan oleh adiknya itu. Sayangnya Hesti itu adalah kakak yang terlalu angkuh, sehingga dalam keadaanyang paling terjepitpun ia tidak mau menerima uluran tanganku apalagi untuk meminta, pikir Hezan. Tidak lama mereka berbicara, Sundari memutuskan untuk memakai baju.
Hezan memikirkan bagaimanapun cara yang harus ditempuh untuk dapat menolong. Pemberian atau pinjaman pernah ia pikirkan untuk menolong Hesti. Sundari berdiri dan menghampiri cermin hendak ingin merias tubuhnya. Hezan berdiri hendak ingin minum. Tiba – tiba Hezan berkata “Bagaiana kalau aku mengawinimu?” Sundari terkejut. Ia berbalik dan menatap Hezan dengan pandangan yang berbeda selama ia kenal. Sundari menggelengkan kepalanya berkali – kali tidak percaya mendengarnya. Hezan berpikir setelah ia menikahi Sundari baru ia membantu Hesti. Sundari berkata “Hanya untuk menolong Hesti. Lalu setelah itu kita cerai.” Hezan hanya terdiam dan membalas dengan hanya mengangkatkan bahu. Sundari merasa aneh mendengar itu. Sundari pun berfikir Hezan itu sebegitu besar kesediaanmu berkorban untuk keluarga Hesti. Setelah perbincangan yang mereka lakukan itu keduannya jadi diambang kebingungan dan seketika ruangan itu diselimuti dengan keheningan.
Sundari memerlukan banyak waktu untuk mempertimbangkan semuanya itu, walaupun sebenarnya persetujuan itu ingin cepat – cepat diungkapkannya. Sundari merasa ia semakin jauh dari laki – laki yang selama ini dengan setia selalu mengunjunginya itu. Hezan juga tidak sekasar seperti biasanya. Sundari juga berfikir bahwa Hezan tiba – tiba berkata seperti itu dan berhasil mendapatkan hatinya.
Setelah beberapa lama Sundari meminta diri dari Hezan. Hezan menawarkan kepada Sundari untuk dapat mengantarkannya.
SEBELAS
Hezan menolak untuk ke Inggris untuk urusan perbankan dan menjadi tamu British Council. Ia mempercayakannya kepada temannya. Untuk pengganti kepergiannya, ia meminta cuti selama tiga tahun. Selama dua minggu Hezan melakukan semua kegiatannya dengan adem – adem saja. Memasuki minggu ketiga ia mulai merasa gelisah.
Tidur dan bermalas – malas atau termenung adalah perkerjaan yang paling tidak disukai Hezan. Awal minggu ketiga Hezan befikir untuk ke luar rumah pada pagi hari sampai siang. Di perjalanan terus memikirkan ia memikirkan istrinya. Kalau aku masih punya istri, pikirnya, pada waktu seperti inilah, kami akan berkesempatan berbicara lebih banyak, tidak seperti biasanya, ketika pekerjaan atau segala belat – belit yang masih terus menunggu.
Setelah lama memutari toko di sepanjang pinggir jalan yang dirasa sudah pas, ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Kedai kopi adalah tempat yang dijadikan sasaran pertama baginya. Ia hanya memesan segelas kopi susu yang dingin. Sedang asik – asiknya menikmati semua yang dipesannya, ia melihat sesosok wanita yang keluar dari toko pakaian. Ia tercengang dan hanya berbicara sendiri. ”Sepertinya saya pernah melihat wanita ini tapi dimana ya.” Tanpa memikir lebih jauh langsung membayar semua yang dipesannya dan mengejar wanita itu. Lama – lama ia kehilangan jejak wanita itu.
Berjalan terus menyusuri jalan di depannya. Ia duduk dan menikmati sebatang rokok. Seorang pemuda menghampirinya dan berusaha dengan keras agar dapat sebatang dan menghirupnya. “Cari kerja disini susah ya pak?”, tanya seorang pemuda itu. “Lalu kenapa anda datang kemari.”, Hezan malah berbalik bertanya. “Saya hanya ingin mencari pengalaman. Palembang rasanya tidak akan memberikan pengalaman sebanyak ini.” jawabnya. Hezan pun hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka melakukan perbincangan yang cukup lama. Hezan minta diri untuk pergi dan member pemuda itu kartu nama. Sepulangnya dari perjalanannya ia hanya terus merenung apalagi dengan masalah pengganti istrinya yang selama ini menjadi masalah yang terus berbelit.
DUA BELAS
Tonton sudah tidak sabar menunggu kelahiran anaknya. Di rumah sakit itu ia hanya terus mondar – mandir kesana – kemari, risau, cemas dan semuannya bercampur di situ. Setiap perawat atau dokter yang keluar dari ruangan dimana tempat bersalin istrinya itu ditanya bagaimana hasilnya, jawaban yang diberikan hanya “Sabar dan tunggulah sebentar lagi.” Hezan pun tiba di rumah saktit dan ingin menunggu juga kelahiran cucunya.
Serombongan anak – anak sekolah dengan seorang perawat mengantarkan anak yang terluka parah menuju ruang PPPK dengan bantuan kereta dorong. Semua berjalan dengan lancar, tinggal menunggu.” Dan tak beberapa lama ada seorang wanita menghampiri mereka dan bertanya, “Apakah tahu dimana anak – anak sekolah lewat sini menuju kemana?” “Kesana.” Setelah itu wanita itu mengikuti arahan dari Hezan dan Tonton.
Seorang suster keluar dari ruang bersalin. Bagaiana suster? Masih lama lagi?”, tanya Tonton. Sambil tersenyum ia berkata, “Sudah selesai.” Tonton masuk ke ruang bersalin, tetapi Hezan menunggu di kamar pasien.
TIGA BELAS
Nuning ditawarkan oleh kedutaan dimana tempat Tonton bekerja sebagai translation Division honorer. Nuning menerima tawaran itu. Ia yang dikenal Tonton dan Bahrum sebagai seorang yang sombong, tetapi akhir – akhir ini ia dapat menarik simpati mereka. Terlihat dalam akhir – akhir ini Tonton dan Bahrum memanggil Nuning dengan sebutan ibu. Nuning juga memanggil mereka dengan sebutan adik. Dari Bahrum, Nuning banyak mendengar cerita tentang Hezan, mertua Tonton. Dalam pembicaraan mereka, Bahrum juga menyampaikan bahwa penilaiannya terhadap Hezan yang kurang agresif dalam mencari pasangan hidup pengganti istrinya. Hezan juga sesekali waktu menganjurkan agar Nuning berpasangan hidup saja dengan Hezan.
Sepulangnya dari kedutaan Nuningteru memikirkan Hezan. Perkataan Bahrum juga masih menghantui dirinya. Apakah benar bahwa ia terlalu cinta kepada almarhumah istrinya? Apakah benar ia terlalu cinta kepada anaknya? Apakah ia tidak dapat mencintai orang lain? Semua itu adalah pertanyaan yang terus membayang dalam diri Nuning selama ia mengerjakan terjemahannya. Karena pikirannya terbang kemana – mana, ia hanya mengerjakan tugasnya dengan hasil satu – dua lembar.
EMPAT BELAS
Hezan berusaha memperbaiki diri. Sembahyang wajib yang jarang ditinggalkannya, kini bertambah dengan setengahsembahyang sunat setiap hari. Mulanya memang tidak mudah baginya. Namun ia sudah membuat tekat yang kuat sehingga tiada lagi yang bisa menghalangnya. Keinginan tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa perjuangan, katanya dalam hati. Aku membutuhkan seorang istri. Mungkin Praptilah yang paling jujur.
Hezan mendapatkan tamu. Ramlan. Lama – lama Hezan merasa ada sesuatu yang tersembunyi yang ingin dikatakan oleh Ramlan. Ternyata setelah Hezan memberanikan diri untuk bertanya apa masalahnya, Ramlan menjawab tentang Sundari adik istrinya. Ramlan menjelaskan panjang lebar apa yang sebenarnya terjadi dengan Sundari. Sundari ingin kembali ke jalan yang benar setelah Hezan melamarnya. Setelah mendengar penjelasan itu Hezan hanya terdiam dan membayangkan kejadian di saat ia melamar Sundari. Sikapnya yang tidak percaya dan ucapannya yang seperti mengejek. Semuanya tergambar diingatan hezan.
“Bapak menyesal dengan semua yang sudah terjadi?” Hezan hanya menggelengkan dan menganggukkan kepalanya. Ramlan tidak ingin bertanya lebih lanjut. Dan bagi Herzan terlalu susah untuk mengatakan hal yang sebenarnya. “Sundari ingin ketemu dengan bapak,” kata Ramlan menyambar keheningan. “Ya aku akan menemuinya dan menerangkan segalanya.” Setelah berjanji akan datang lagi kalau waktunya tepat, Ramlan pamit pulang. Rumit agi masalahnya.
LIMA BELAS
Sundari itu adalah wanita yang pasrah. Ia hanya mendengarkan dengan tenang semua perkataan Hezan dikamar tamu rumahnya. Hezan hanya datang untuk menjelaskan semuannya itu. Hezan tidak senang dengan sifat Sundari yang hanya menyerah setelah ditanya. “Apakah kamu pasrah?” Ia ingin melihat wanita itu memaki – makinya, menuduhnya seorang bajingan, kemudian dengan kasar mengusirnya dan kemudian menutup pintunya dengan rapat – rapat. Tetapi tidak sesuaiyang diinginkannya itu.
Kemudian sundari mengatakan sesuatu dengan panjang lebar. Semuannya itu terungkapkan dengan maksud kalau ia sudah pasrah dengan semuannya. Ia menyatakan itu karena ia berfikir ini semua hanya semata – mata untuk menolong keluarga Ramlan. Dan Hezan dinilai juga olehnya sebagai laki – laki yang teraneh yang pernah ia temui. Ternyata Sundari tidak terkejut dan sudah mengetahui bahwa Hezan akan datang dan mengatakan hal itu. Setelah Ia menjelaskan dengan lebar laki – laki itu hanya terdiam. Wanita seperti itu ternyta bisa memberikan penilaian yang begitu kepada saya, piker Hezan. Lagi pula Sundari juga megusulkan Hezan menikah saja dengan orang lain yang lebih berkenan baginya. Hezan juga setuju dengan pendapatnya. Kemudian Hezan merasa tidak ada lagi hal yang ingin dibicarakannya. Ia pamit dari hadapan Sundari.
Hezan langsung pulang ke rumahnya. Ia ingin merenung kembali semua kata – kata yang didengarnya beberapa saat yang lalu. Saat termenung tiba – tiba terbayang Nuning. Ia terus menyalahkan wanita itu sebagai sebab ia menjauhi Sundari. Tapi dalam pikirannya ia meninggalkan Sundari dan kawan – kawannya karena kesadaran yang tibi – tiba datang. Laur juga muncul dalam renungannya. Seseorang yang diharapkannya ternyata tidak pernah ada setelah ia ditinggalkan istrinya. Pemikiran yang lebih lama dan sekar membuatnya memikirkan Nuning adalah wanta yang pas untuk dapat menemani hidupnya.
ENAM BELAS
Suatu malam Tonton dan Prapti diundang Nuning untuk makan malam. Setelah mereka sampai ke rumah Nuning ternyata mereka melihat Bahrum dan istrinya juga. Bahrum dan Tonton asik bercanda, berbicara, dan bertanya kepada Nuning. Tetapi istri mereka lebih memilih untuk terdiam dan asik memperhatikan pembicaraan. Pada saat makan Prapti melihat wajah dan kelakuannya yang membuat ia merasa seperti pernahmelihat sesosok wanita yang seperti itu.
Selesai makan Nuning menawarkan agar mereka pulaqng dengan diantar. Setelah sampai di rumah, Prapti dan Tonton duduk sambil melepaskan kelelahan mereka sejenak. Prapti meminta pendapat Tonton apakah Nuning cantik. Tetapi Tonton hanya mengangkat bahunya dengan isyarat bahwa ia tidak tahu. “Ibu Nuning yang cantik.” “Pantas kau tadi lebih memilih untuk berdiam diri seperti patung. Rupanya kau terpesona dengan kecantikannya.” Ternyata Prapti bukan terpesona dengan kecantikannya melainkan dengan raut wajahyang memberikan keenakkan dan seperti pernah melihatnya. Tonton berfikir kalau istrinya itu hanyamengada – ngada saja. Prapti memikirkan dengan lama dan jauh sampai – sampai ia berfikir kalau Nuning itu adalah pasangan yang baik bagi ayahnya. Prapti memberitahukan kepada suaminya, tetapi balasan yang didapat hanyalah senyuman dan pandangan dengan penuh pengertian.
TUJUH BELAS
Prapti telah menceritakan apa yang ia rasakan setelah melihat Nuning kepada ayahnya. Ia mencoba agar ayahnya dapat mengerti dengan pendapatnya. Prapti mejelaskan semua perasaannya tentang Nuning sampai akhirnya ia tiba pada kesimpulan Nuning orang yang tepet untuk menggantikan posisi ibunya itu. Tetapi ayahnya berpura – pura untuk tidak mengenal Nuning.
“Karena wanita itu adalah ibu. Karena ibu Nuning adalah ibu, papa. Hanya dia yang pernah memberikan kesejukan dan kelapangannya melalui tatapan mata,” Prapti menceritakan kepada ayahnya. Jawaban dari ayahnya menjelaskan betapa tidak sebegitu mudahnya yang dibayangkan anaknya itu. Ia juga kembali mengelak telah mengetahui Nuning lebih lanjut dari penjelasan anaknya itu. Ternyata dari lubuk hatinya yang paling dalam itu ia sebenarnya ingin mengetahui lebih tentang Nuning, wanita yang justru diharapkannya akan menjadi miliknya itu.
Di waktu dengan tempat yang berbeda Hezan sedang bekerja di kantornya. Hezan mendapat tamu seorang laki – laki, Basir namanya. Hezan mencoba untuk mengingatnya. Basir hanya bermaksud untuk berterima kasih atas segala saran yang pernah Hezan berikan. Ia juga meminta maaf karena baru saat sudah berkerja selama dua bulan ia baru menemuinya. Basir pun menjelaskan bahwa ia adalah orang yang waktu ityu pernah mengobrol di bawah pohon kecil di antara deretan toko – toko, dan ia juga berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan satu rokok dan menyulutnya. Hezan teringat dengan semuanya. Ia tertawa setelah mengingat itu semua. Lalu mereka pun mengobrol. Karena Basir merasa tidak ada lagi yang akan ia bicarakan dan tidak mau mengganggu pekerjaan Hezan, ia pamit. Hezan merasa kagum dengan Basir. Ia baik dan menyempatkan waktunya hanya untuk member tahu dan bukan untuk meminta, walaupun Hezan pernah mengataknkesediaan untuk membantunya kalau ia gagal dalam pertarungan memburu lapangan kerja di kota besar ini. Dan hanya menjadi pelayan di sebuah kedai nasi, tidak membuatnya merasa rendah diri untuk menemuai dan berbicara seperti itu. Hezan juga tadi telah berjanji kepada Basir untuk datang ke tempat Basir bekerja dan mengajaknya makan bersama, yang sebagai teman.
DELAPAN BELAS
Hezan merasa semuanya itu harus diselesaikan dan memperistri Nuning. Tetapi rasa takut dan malu terus menghampirinya. Ia meminta bantuan kepada Tonton dan Prapti agar dapat memberikan solusinya. Terus dalam pikirannya ia membayangkan hal – hal yang menyenangka yang dikatakan oleh Nuning kepadanya. Salah diantaranya adalah Nuning menerima lamarannya dan mereka kawin. Mereka bahagia, Prapti dan Tonton pun ikut bahagia. Nuning adalahibu bagi Prapti dan Tonton, dan istri baginya. Ia sadar lagi bahwa ia harus memulai, harus berbuat sesuatu, harus bertindak dan setelah itu baru menunggu hasil.
Hezan terus menggunakan otaknya untuk memikirkan karena yang ada di pikirannya serakang hanya ibarat sebuah jalan buntu yang masih tetap tertutup untuk semua lalu lintas. Berhari – hari dan berminggu – minggu akhirnya keberanian itu datang juga di hadapannya. Pada sore hari ia datang ke Pavilyun tempat Nuning tinggal. Setelah sampai di sana perasaannya mengatakan tidak ada siapa – siapa. Benar ternyata setelah ia mengetuk dan berdiri di depan pintu selama berjam – jam tuntutan harus menunggulah yang ia ambil. Ia menunggu di mobilnya sampai sampai merasa gelisah. Ia menunggu sampai magrib pun tiba. Pulanglah ia dengan lesu dan kesal.
Hezan tidak patah semangat atas kejadian tadi. Pada malam hari ia memberanikan diri lagi untuk datang ke Pavilyun itu. Ternyata Nuning sedang ada di tempat. Setelah mereka berdua bertemu dan menyapa tidak ada lagi yang mereka lakukan. Mereka itu membisu seperti dua buah patung yang berhadapan. Kejadian itu berlangsung beberapa menit. Hezan bingung sendiri dengan semua yang akan dikatakan dan seakan – akan ia lupa semua ungkapan yang mau dibicarakan dengan Nuning. Tiba – tiba ia meminta untuk pamit dan semua hal yang akan dibicarakannya itu akan dibicarakan lain kali saja. Tidak tahu mengapa ia melakukan hal aneh semacam itu. Nuning hanya terdiam padahal ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi Hezan pergi begitu saja.
Setelah ditinggal Hezan ternyata Nuning menyesali semua yang terjadi beberapa saat yang lalu. “Mengapa tidak aku sambut dengan perasaan yang terbuka? Mengapa aku tidak menahannya ketika ia pamit itu?” terdengar gumammannya. Ia hanya bisa menangis dan meratapi apa yang telah terjadi. Ia terus menanti – nantikan lagi kedatangan Hezan. Yang akan ia lakukan nanti setelah bertemu adalah menyambutnya dengan senang hati, memelukknya dan berbicara terus terang tentang perasaannya yang selama ini ada di dalam hatinya.Lama ia memikirkan sampai – sampai ia tertidur. Nuning bangun dari tidurnya.Seketika ia memikirkan Hezan lagi. Ia melihat keluar jendela dan membayangkan ada suara ketukan pintu. Setelah dibuka ia melihat Hezan ada di depan pintu itu.
Hati wanita itu berkata: – datanglah, datanglah sekali lagi. Aku akan mebukakan pintu ini lebar – lebar untukmu. Biarkanlah pemuda – pemuda remaja mengintip dan menertawakan kita. Dunia bukan hanya milik mereka.
